Kasus P2TL PLN 6 Februari 2016 Area Cengkareng (Ibu Wina)

Kami mau share kejadian yg terjadi pd keluarga saya dengan PLN Area Cengkareng,

Pada bulan Februari 2016, pihak P2TL yg merupakan pihak ke-3 (swasta) tanpa didampingi petugas PLN dtg memeriksa kwh meter rumah dan mengatakan putaran platenya lbh lambat dari seharusnya, sehingga kwh meter diganti dgn yg baru dan yg lama dibawa pergi tanpa penyidik atau saksi lain.

Beberapa hari kemudian, kami dipanggil ke kantor pln dan mama dibawa untuk memeriksakan kwh meter. Dalam segel tera yang ternyata sudah EXPIRED (tidak diganti PLN melalui badan metrologi), kwh meter dibuka, dan dikatakan oleh PLN roda giginya rusak.

Pihak PLN sendiri mengatakan yg bisa melakukan hal ini ya org2 PLN bahkan mereka memberi contoh. Tagihan listrik rumah sy tidak pernah turun mendadak, kami selalu membayar tagihan listrik tanpa menunggak, pemeriksaan yg dilakukan PLN di tahun2 sebelumnya jg mengatakan kwh meter sy baik.

Kata mereka, ah ibu kan biasa petugas kita biasanya MALAS, soalnya hitung tera lama, jadi cepat-cepat, jadi mungkin tidak keperiksa, yah kalau yang rusak bukan ibu, hitung2 ibu sudah menikmati 12 tahun. Bayangkan kalimat seperti itu yg mereka katakan kepada kami.

Tetapi sesuai dgn SK-DIR 1486 tahun 2011 (surat direksi PLN yg bahkan bukan undang2, yang isinya hanya ada sanksi untuk konsumen, tdk ada sanksi untuk PLN jika tidak prosedural atau melanggar), saya (konsumen) dikenai tagihan sebesar Rp42 juta.

Kemudian mama diberikan no.register oleh Bp.K (petugas PLN) untuk membayar berapapun kemudian baru dibicarakan selanjutnya. Karna jumlah yg cukup besar, sy menelpon ke PLN 123. PLN 123 meminta no register yg diberikan ke sy, dan ternyata no.register itu bukan atas nama sy (SALAH). Tdk lama kemudian sy ditelpon oleh Bp.K yg mengatakan IBU UNTUK APA TELPON-TELPON KE 123? TIDAK USAH TELPON-TELPON LAGI, NANTI KAMI JUGA YG DIHUBUNGI, NO REGISTER YG TD ITU SALAH SEKARANG KALAU IBU MAU BAYAR NO REGISTER ITU SDH TIDAK ADA.

Esoknya kami ke PLN Area Cengkareng dan kemudian Bp.K mengatakan no yg diberikan kemarin itu CUMA CONTOH, soalnya tidak di atas meterai. Kalau ibu bersedia membayar, baru sy berikan no yg benar. Kami merasa diitipu, kalau kami transfer, kemana uang itu akan masuk? Saya jg pernah datang ke PLN, meminta bertemu dgn kepalanya, setelah BERJAM-JAM menunggu kami disuruh pulang, PLN mau tutup, kepala mereka sudah pulang lewat PINTU RAHASIA, PLN kan punyak banyak PINTU.

Saat kami meminta rincian tagihan, permohonan kami ditolak (ada suratnya). Kami sudah melapor ke YLKI, saat YLKI datang pihak PLN membagi-bagikan rincian tagihan saya, sehingga seolah-olah saya berbohong. Pihak YLKI mengatakan, kasus ini sdh bukan ranah mereka sehingga sy disarankan ke BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen).

Saat sidang pertama, PLN tidak datang. Sidang kedua, PLN datang tetapi tetap bersikeras dan kemudian saya ditawarkan untuk bertemu dgn Manager mereka. Dua hari sblm sidang ke-3, saya dipanggil untuk diskusi dgn Manager, hasilnya? Saya diharapkan untuk tetap membayar dan ditawarkan untuk mencicil 12 bulan, dan asistennya mengatakan meminta surat peringatan ke2 untuk pembongkaran (surat ini baru diberikan saat mereka dtg ingin memutus).

Kami bertanya apa sanksi jika PLN tdk prosedural atau memberi alat yang rusak, mereka bilang TIDAK ADA, ya kami cuma minta maaf dan ganti dengan alat yg baru. Tertulis di kontrak surat perjanjian dan pihak ke-2 (konsumen) sudah menyetujui. Kalau tdk setuju silahkan tidak usah menyetujui perjanjian tersebut. Satu-satunya sanksi untuk PLN ya cuma kalau mati lampu. Bahkan asisten managernya bilang, maksud ibu tidak mau berlangganan dgn PLN lagi? Ada solusinya, PAKAI GENSET.

Saat sidang ke-3, PLN tidak datang. Majelis BPSK menjelaskan untuk tidakmemutus aliran listrik. Kami dan majelis meng-SMS PLN, menjelaskan isi putusan sidang sementara, tetapi mereka blg belum ada surat resmi. Padahal mereka sendiri tidak datang sidang, sehingga Surat Berita Acara  belum diproses untuk diberikan ke mereka. Sore ini sy sdg pergi keluar, PLN datang (1 hari stlh sidang), menurut tetangga, mereka menggedor keras-keras, kemudian menitipkan surat peringatan ke-2 tadi ke satpam, kemudian MEMUTUS ALIRAN LISTRIK sy dari gardu, yang lagi-lagi dilakukan oleh petugas P2TL a.n. swasta.

Perjuangan kami terus berlanjut, walaupun rumah kami dipadamkan sepihak dan akibatnya sangat mengganggu kehidupan kami. Kami terus mencari keadilan yang buat kami belum kami dapatkan dengan baik, karena ini adalah kerusakan perangkat dan bukan kesengajaan kami sebagai konsumen PLN. Kita lihat akhirnya nanti, bagaimana PLN bersikap dan memutuskan perkara kami.

Bagaimana sikap PLN ini, sebagai SATU-SATUNYA penyedia listrik di Indonesia? Monopoli mereka menyebabkan konsumen DIPAKSA membayar, jika tidak, listrik dimatikan (kalau dimatikan bgmn aktivitas rumah tangga mau dijalankan), sehingga konsumen DIPAKSA mengaku salah.

Kami juga butuh peraturan yang seimbang, jika PLN salah, lalu apa sanksinya, kalau tdk ada ya semena-mena jadinya.

Tulisan diatas adalah salah 1 kisah sebagai bahan edukasi bersama bagaimana kisah dan akibat dari penertiban listrik P2TL PLN. Sebuah cita-cita yang mulia untuk menindak oknum / konsumen yang tidak tertib menggunakan listriknya dan harus dilakukan dengan baik dan benar. Hal ini untuk menghindari keraguan konsumen terhadap proses dan kebijakan PLN sendiri nantinya.

Tulisan diatas juga sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama anak bangsa Indonesia yang mengalami hal yang sama. Yang bingung dan tidak tahu harus kemana untuk memperjuangkan keadilan. Sekali lagi semua tulisan diatas dibuat tanpa maksud menjelekkan dan menyudutkan pihak manapun. KAMI INGIN BANGSA INI MAJU DAN BELAJAR SERTA MAMPU MENSEJAHTERAKAN RAKYATNYA, SECARA ADIL DAN BERADAB…

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *