BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen)

Anda dirugikan? Anda Tidak Punya Waktu? Anda ada adalah konsumen akhir yang dirugikan pelaku usaha? Lapor segera ke BPSK!

BPSK adalah badan yang dibentuk oleh negara dibawah Departemen Perdagangan dan bertugas untuk membantu konsumen jika memiliki sengketa dengan pelaku usaha.

BPSK Kantor (1) (640x360)Untuk BPSK DKI Jakarta sendiri, setelah berpindah-pindah tempat selama kurang lebih 4 kali kini BPSK bermarkas di jalan Perintis kemerdekaan, daerah Kelapa Gading (daerah kompleks Departemen Perdagangan, seberang kampus ASMI).

Dibawah kepemimpinan gubernur Ahok lah, BPSK DKI Jakarta semakin baik dan semakin kuat. Konsumen semakin diberikan kemudahan dan ruang untuk melayangkan komplain, protes atau masukan perbaikan kepada para pelaku usaha.

BPSK tidak bertindak sebagai pembela konsumen langsung, namun sebagai penengah yang netral dan membantu menyelesaikan semua sengketa yang terjadi antara konsumen dan pelaku usaBPSK Kantor (2) (360x640)ha. BPSK juga tidak bertindak sebagai hakim yang memutuskan perkara namun bertugas menyelesaikan sengketa dengan 3 cara, yaitu :

  1. Konsiliasi  : Yaitu dengan mempertemukan para pihak untuk bermusyawarah, mencapai kesepakatan tanpa campur tangan anggota BPSK.
  2. Mediasi : Yaitu mempertemukan para pihak dengan mediator anggota BPSK dimana pihak BPSK akan memberikan masukan dan saran untuk mencapai kesepakatan
  3. Arbitrase : Yaitu penyelesaian dengan menunjuk arbiter dari masing-masing unsur konsumen & pelaku usaha dan menunjuk ketua majelis yang nantinya akan memutuskan sengketa para pihak.

Selain BPSK, tentu masih ada sejumlah instansi lainnya yang dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, diantaranya adalah YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang tentu semua orang sudah tau maupun BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional) yang berlokasi di kantor Dept Perdagangan RI di gambir. Namun jika kasus yang terjadi adalah berupa sengketa, maka BPSK lah badan yang paling berwenang untuk menyelesaikannya.

Jadi jika kita sebagai konsumen merasa dirugikan, dikarenakan barang/jasa yang kita beli / terima tidak sesuai dengan harapan kita, ayo segera lapor dan bawa kasus kamu ke BPSK setempat (tingkat provinsi). Semoga berhasil dan menang ya!

 

Salam Sukses!

jagoaninternet.com

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

REMARKETING/RETARGETING Strategi IKLAN yg terus “MENGIKUTI” KITA

Remarketing-Retargeting

Apakah Anda pernah melihat iklan banner yang sama di mana-mana ketika mengunjungi sebuah web dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa begitu mentargetkan anda ? Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana beberapa perusahaan mampu membayar begitu banyak iklan pada hampir semua situs yang Anda kunjungi ? Nah,  ada rahasia yang tidak banyak orang tahu yaitu tentang Remarketing.

Remarketing, juga dikenal sebagai retargeting, adalah proses iklan kepada pengunjung website Anda di situs lain yang mereka kunjungi. Dengan Remarketing, ketika seseorang mengunjungi website Anda, Anda tag mereka dengan cookie yang disediakan oleh jaringan periklanan Remarketing/Retargeting. Kemudian, setiap kali seseorang yang mengunjungi sebuah website yang menjalankan iklan sebagai bagian dari jaringan iklan Remarketing/Retargeting, iklan Anda akan muncul. Terdengar sederhana, kan? Tapi Ini sangat Powerfull.

Bagaimana Remarketing/Retargeting Ulang bekerja ?

Ketika seseorang mengunjungi situs Anda, mereka bisa datang dari berbagai sumber, disengaja atau tidak. Mereka mungkin telah mengklik iklan di mesin pencari, mereka mungkin menemukan Web Anda dalam daftar SEO organik, mereka mungkin telah mengklik iklan banner, mereka mungkin berasal dari website lain, atau dari situs media sosial. Apapun yg membawa mereka ke web Anda, mereka mengunjungi karena mereka tertarik pada apa yang Anda tawarkan. Masalahnya adalah, pengunjung ada dalam berbagai kategori. Sebagian siap untuk membeli sekarang, Sebagian dalam beberapa hari/minggu kedepan, beberapa tidak sama sekali. Di situlah Remarketing/Retargeting sangat berguna untuk mengingatkan kembali calon pembeli tentang website dan penawaran kita.

Dengan menerapkan kampanye Remarketing/Retargeting Anda bisa terus-menerusmemasarkan produk anda ke pengunjung web bahkan setelah mereka telah meninggalkan website Anda, tapi satu hal yang berbeda. Sekarang, Anda tahu bahwa membuat iklan untuk orang yang telah mengunjungi situs Anda (bukan pasar umum). Dan ini memberikan Anda keuntungan, karena sekarang Anda tahu bahwa orang-orang ini telah menunjukkan minat dalam penawaran Anda di masa lalu dan lebih cenderung untuk membeli dari Anda. Dengan pengetahuan ini Anda dapat merancang kampanye Remarketing/Retargeting yang dirancang untuk mengkonversi pengunjung menjadi lead dan penjualan, dengan contoh memberikan kata kata Diskon atau beberapa bonus bagi yg mau membeli saat itu juga di setiap banner iklan kita.

Bagian terbaik dari Remarketing/Retargeting adalah bahwa biaya per klik-iklan kepada audiens yang jauh lebih murah dari kampanye tampilan standar.

remarketing / retargeting
Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan remarketing/retargeting adalahTraveloka.com, beberapa hari yg lalu saya mencari tiket untuk penerbangan dari Banjarmasin ke Surabaya, setelah melihat lihat harganya saya putuskan untuk membelinya lain kali saja disaat harga sudah turun. Nah yg Terjadi kemudian adalah disetiap kali saya mengunjungi website yg ada iklan display nya atau di facebook sendiri akan selalu ada penawaran tiket murah dari traveloka untuk penerbagan dari banjarmasin ke surabaya, dan ini sangat powerfull sekali jika remarketing/retargeting kita gunakan untuk memasarkan produk atau jualan kita.

Screenshot (716)

Kunci untuk Sukses membuat kampanye Remarketing/Retargeting, setidaknya pada tingkat dasar, adalah untuk terus menguji Call To Action yg ada di banner iklan kita, dan kemudian terus mengupdate kreatifitas kita sehingga audiens Anda tidak bosan dengan iklan Anda (yang akan mempengaruhi klik-tayang dan seberapa sering iklan ditampilkan).

Remarketing/Retargeting merupakan strategi yg sangat Powerfull. Karena yang paling penting untuk diingat adalah bahwa seseorang yang telah mengunjungi web Anda lebih bernilai daripada seseorang yang belum pernah mengunjunginya. Remarketing/Retargeting ulang memungkinkan Anda untuk memanfaatkan hubungan Anda dengan pengunjung website Anda untuk membuat lebih banyak konversi penjualan.

Nah, itulah penjelasan singkat sekilas mengenai remarketing. Berikutnya saya akan share bagaimana cara memasang iklan remarketing/remarketing. Terimakasih semoga bermanfaat

 

sumber : http://firmankurniawan.com/

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

AWAS HATI HATI MODUS BARU PEMERASAN PETUGAS P2TL PLN!

Meteran-listrik-PLN-600x330-600x330Disuap di tempat? Ohh udah gak jaman lagi!

Ancam mengancam listrik bakal diputus dan langsung minta damai? eitts sudah gak lagi!

Orang semakin pintar dan jaman sudah berubah nih, konsumen juga sudah melek teknologi dan tahu modus-modus basi begitu. SO HATI HATI DAN LAPORKAN JIKA ANDA MERASA DIJEBAK OLEH PERMAINAN PETUGAS P2TL PLN!

Salah satu teman saya, belum lama mengalami hal yang berbeda dan rasanya baru ada yang seperti ini. Modus baru sepertinya nih!

Singkat cerita, teman saya sebagai konsumen (sebut saja namanya Iwan) pernah memanggil petugas listrik PLN melalui layanan 123 dan mengecek meteran listrik dikarenakan listriknya mati total hari itu dan tidak mau menyala lagi. Proses pengecekan dan perbaikan pun selesai tanpa ada masalah yang berarti. Iwan pun tidak mengecek kembali kondisi meteran, yang penting listrik sudah menyala.

Beberapa bulan kemudian, ada yang sedikit aneh dengan tagihan bulanan di rumahnya dimana tiba-tiba tagihan membengkak lebih dari 5 kali lipat dari biasanya. Usut punya usut, ternyata ada kesalahan pencatatan meteran oleh petugas pencatat meter dan hal ini dimaklumi oleh Iwan. Walaupun dia sempat kesal juga dan menyesali kenapa petugas mencatat asal asalan. Akibatnya beberapa bulan kedepatan, tagihan listrik di rumahnya mendadak kecil sekali dan buat Iwan itu wajar karena tagihan yang bengkak di bulan sebelumnya.

Beberapa bulan setelahnya datanglah OPAL P2TL yaitu petugas PLN yang melakukan pemeriksaan dirumahnya. Celakanya didapat sejumlah kejanggalan seperti piringan dalam meteran yang tidak standard, segel hilang, dsb. Meteran pun dibawa ke lab dan didapatkan vonis dari P2TL PLN bahwa Iwan harus membayar tagihan susulan alias denda puluhan juta rupiah. Betapa kaget dan marahnya dia, karena tidak pernah ada petugas PLN memeriksa meteran listrik selama belasan tahun menempati rumahnya dan sekali kena dia dianggap telah menikmati pencurian listrik. Buntunglah dia, sudah gak salah tapi harus bayar. kalo gak bayar, langsung BYAR PET! Listrik rumahnya diputus! NGERI YA?

petugas p2tl plnTernyata kalau dirunut-runut kembali. Petugas P2TL melakukan OPAL setelah melakukan monitoring terhadap tagihan konsumen yang gak wajar. Dalam kasus ini, ada beberapa bulan dimana Iwan membayar tagihan yang sangat kecil dan gak wajar. Mundur ke belakang lagi, bisa jadi terjadi sesuatu saat kedatangan petugas PLN saat memperbaiki meterannya. Sengaja atau tidak sengaja, sepertinya meterannya menjadi rusak / tidak sempurna lagi setelah peristiwa itu terjadi.

Ada teman saya yang juga bercerita kalau petugas-petugas P2TL yang notabene outsource, gajinya banyak dimakan perusahaan outsource nya (mana ada yang gak gitu ya? SUDAH RAHASIA UMUM BUKAN?). Nah didasari hal inilah, orang-orang yang punya keahlian hebat namun gak dibayar dengan proper mulai berkreasi! Mereka pintar tapi bisa melakukan apa aja kalau terdesak  demi kebutuhan hidup bukan? Jadi bukan hanya pemerasan dan penyuapan di tempat saja yang bisa dilakukan, karena masih sejuta cara lainnya kok.

Kebenaran untuk hal ini rasanya hanya oknum P2TL dan Tuhan yang tahu. Karena kebenaran kadang “disembunyikan” oleh manusia-manusia sesat yang punya sejuta kepentingan dan nafsu duniawi.

Soal benar atau salah, Anda juga yang menentukan sebagai pembaca dan masyarakat yang pintar. Mungkin harus Anda alami dulu hal ini, baru bisa mengerti betapa pahitnya menjadi konsumen listrik di negeri ini.

Salam pintar!

JagoanInternet.com

 

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Saatnya HATI bicara..

Melanjutkan kisah saya dengan kasus temuan P2TL PLN Area Cengkareng…

Oh ya, saya banyak bertemu dengan orang baik di kantor PLN Area Cengkareng, mereka punya hati dan mereka tidak mau melanggar hukum dan peraturan. Mereka juga manusia dan warga negara yang mau hidup dan mencari nafkah untuk keluarganya. Buat kami, sayang aja mereka seperti robot yang kaku dalam menjalankan peraturan dan mekanisme pelaksanaan kerja. Mereka punya kebijaksaan pribadi dan perasaan iba, namun lagi-lagi selalu terbentur pada SOP maupun Undang-Undang yang mereka punya dan mereka agung-agungkan.

Disaat negara saat ini ingin maju dengan Good Governance nya, disaat Presiden, segenap menteri serta instansi-instansi negara lainnya memperlihatkan komitmen dan kesungguhan mereka dalam memperjuangkan serta membuat Indonesia Hebat, ternyata saya masih melihat sisi-sisi kelam negara ini dari kisah yang kami alami saat ini. Buat kami apa yang dilakukan oleh P2TL PLN dalam proses ini, belumlah mencerminkan asas keadilan seadil adilnya buat seluruh rakyat yang juga konsumen PLN, belumlah memperlihatkan semangat perubahan yang lebih memperjuangkan rakyat ketimbang hal-hal lainnya.

Lagi-lagi buat saya, mekanisme dan pelaksanaan P2TL (yang sudah dibuat bertahun-tahun) dan mungkin sudah tidak revelan,  masih dipraktekan dengan gaya dan cara yang sama. Berdasarkan peraturan yang berlaku, tanpa pandang bulu semua konsumen yang kedapatan rumahnya (saat pemeriksaan) memiliki instalasi listrik yang tidak standard, maka langsung didakwa dan dijatuhkan hukuman berupa sanksi/denda.

Sungguh, dimanakah hatimu? Tampil sesaat dan kemudian dikubur dengan peraturan yang harus ditegakkan? Apa sebenarnya tujuan utama peraturan ini dibuat, bukankah untuk melindungi segenap konsumen dari tindakan pihak-pihak

 

Sebuah refleksi dan sebuah pembelajaraan, Orang benar jangan berdiam diri untuk memperjuangkan keadilan!

 

Salam Sukses,

JagoanInternet.Com

 

NB: Teman-teman punya komentar, saran, masukkan dan pengalaman yang sama? Berikan support dan dukungan serta masukkan buat kami ya dalam komentar dibawah ini. Thanks!

Tulisan diatas adalah murni kronologis kisah dan curhatan hati kami tanpa maksud apapun untuk menjelekkan atau merugikan pihak manapun serta untuk tujuan yang baik dan membangun bersama. Mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam hal ini.

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Wahai Penguasa Listrik…

Wahai Penguasa Listrik..

Kami rakyatmu dan kami wargamu yang setia,

Seumur hidup kami, kami bergantung pada mu,

Suka gak suka, kami harus  mengabdi kepadamu,

Apapun yang kau lakukan, kami tidak kuasa menolak,

Karena kau adalah empunya listrik di negeri ini,

Apapun keputusanmu harus kami terima,

Apapun titah yang darimu, semua harus kami patuhi,

Tanpa pandang bulu, tanpa lihat benar salahnya

 

Wahai penguasa listrik…

Peraturan di negeri ini dibuat untuk memihakmu,

Kami rakyat kecil tak layak & tak kuasa menggugatmu,

Dimana suara kami yang tak bersalah dan tak berdosa ?

Dimana keadilan bagi kami yang tidak punya kuasa ?

Apa yang sebenarnya kau cari wahai penguasa ?

Membahagiakan kami, atau menyengsarakan kami ?

 

Sebuah ungkapan kesedihan dari hati konsumen di negeri ini, yang merasa “tertindas” oleh kekuasaan sebuah instansi atau perusahaan besar yang menguasai hajat hidup orang banyak dan menjadi penguasa tunggal di negeri ini.

Semua kata-kata diatas dibuat dengan maksud dan tujuan yang mulia, tanpa bermaksud menjelekkan atau merugikan pihak manapun.

 

Salam Hebat,

JagoanInternet.com

 

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Cara Baru Menargetkan Pengguna Facebook dengan Remarketing

Sebelumnya sudahkah anda tahu mengenai fitur terbaru yang dimiliki oleh faceook saat ini? Fitur terbaru itu adalah Facebook Remarketing. Facebook belakangan ini sudah mengembangkan sistemnya dengan mengembangkan fitur Facebook Remarketing. Facebook Remarketing sendiri adalah fitur yang ada di Facebook yang digunakan dengan cara mengumpulkan data dari potensial audience-nya baik itu berupa data nama, email, atau cookies dari potensial audience-nya. Data tersebut digunakan untuk mengiklankan suatu iklan kepada potensial audience tersebut sehingga iklan kita sudah di targetkan kepada audience yang sudah memiliki interest dan motivasi terhadap iklan tersebut.

Di dalam facebook, Facebook remarketing dalam mengumpulkan audience-nya terdapat beberapa metode sebagai berikut:
• Custom Audience
• Lookalike Audience

Custom Audience
“ Custom Audience adalah Klasifikasi target dengan cara mengumpulkan data berupa email Facebook, No. Telfon yang tertera di Facebook, dan ID Facebook. Tidak hanya data tersebut, bahkan kita dapat juga menggunakan cookies orang yang pernah datang ke dalam website yang sudah kita pasang facebook pixelnya.”

Custom Audience sendiri di klasifikasikan ke dalam 4 tipe. 4 tipe tersebut di bagi sesuai dengan data apa yang ingin kita gunakan. Untuk ilustrasinya dapat dilihat gambar di bawah ini:

step1 facebook remarketing

Berikut penjelasan 4 tipe custom audience yang dimiliki facebook:

1. Data File Custom Audience
Ini adalah custom audience dengan cara mengumpulkan ID Facebook user yang ingin kita targetkan terlebih dahulu dan di upload kedalam facebook.

2. Mail Chimp Custom Audience
Ini adalah custom audience dengan cara mengupload list data email user yang kita punya ke dalam facebook dan email tersebut harus email yang digunakan audience dalam login facebook.

3. Custom Audience From Your Mobile App
Ini adalah custom audience dengan cara menargetkan user yang sudah pernah sign up applikasi Mobile yang pernah kita buat di dalam facebook dan data sign up tersebut yang digunakan untuk custom audience.

4. Custom Audience From Your Website
Ini adalah custom audience dengan cara menargetkan user yang sudah pernah datang kedalam halaman website kita yang sudah kita tanam facebook remarketing pixelnya. Sehingga ketika user datang ke website kita dan cookiesnya pun akan ke track sehingga kita dapat meargetkan user tersebut.

Lookalike Audience “ Lookalike Audience adalah klasifikasi target dengan cara memanfaatkan data yang terdapat di dalam custom audience, Conversion tacking pixel, atau page dan dari data-data tersebut sistem facebook mencari user yang memiliki kesamaan dengan data custom audience tersebut. Sehingga meskipun kita tidak memiliki datanya namun kita tetap dapat mentargetkan iklan kita kepada audience yang memiliki kesamaan dengan data audience yang kita punya.”

step2 facebook remarketing

Lookalike Audience dapat di optimize sesuai dengan jangkauan yang kita inginkan. Terdapat 2 klasifikasi jangkauan di dalam Lookalike Audience yaitu sebagai berikut:

1. Similarity Ini adalah lookalike audience dengan cara menargetkan user yang memiliki persamaan yang cukup banyak dengan sumber audience yang kita gunakan baik itu berasal dari custom audience, conversion tracking pixel, maupun dari pages

2. Greater Reach Ini adalah lookalike audience dengan cara menargetkan user yang memiliki persamaan meskipun hanya sedikit dengan sumber audience yang kita gunakan baik itu berasal dari custom audience, conversion tracking pixel, maupun dari pages. Sehingga audience yang dimiliki lebih banyak dari yang similarity.

Untuk ilustrasi banyaknya audience mengenai Custom Audience, Similarity, dan Greater Reach dapat dilihat dari gambar di bawah ini:

diagram facebook remarketing

Facebook Remarketing ini sangat berfungsi sekali terutama untuk e-commerce dan dewasa kini sudah banyak yang menggunakan fitur ini di dalam facebook sehingga para perusahaan e-commerce bisa meningkatkan penjualannya menggunakan iklan facebook. Jadi tunggu apalagi, ayo gunakan fitur ini terutama bagi para e-commerce.

image credit : baas.gr

sumber : http://www.idmarketlab.com

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Terima Kasih P2TL PLN Area Cengkareng!

petisi P2TL PLN jagoaninternet.com

AYO DUKUNG PETISI : STOP BOM WAKTU DENDA P2TL PLN UNTUK KONSUMEN TIDAK BERSALAH!

Terima kasih P2TL PLN Area Cengkareng! Saya mendapatkan hadiah berupa hutang sejumlah 30jt dari Anda. Sebuah pelajaran berharga untuk saya untuk sadar dan belajar menjaga listrik dan lingkungan sekitar kita. Lapor jika temukan masalah / pencurian listrik dan bertindak arif dan bersih dalam proses pemeriksaan listrik. Ayo dukung PLN untuk bersih dan Anti KKN!

Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, saya juga mau sharing mengenai proses dan hasil pemeriksaan petugas P2TL PLN terhadap saya sebagai konsumen listrik, warga perumahan Taman Semanan Indah, Semanan, Jakarta Barat

Adapun kronologis detailnya adalah sebagai berikut :Photo Petugas Pemeriksa P2TL

Tanggal 17 Des 15, petugas outsource P2TL mendatangi rumah-rumah di dalam blok G perumahan Taman Semanan Indah. Dari pemeriksaan di rumah kami, kebetulan hanya istri yang dapat mewakili saat itu dengan info dan pengetahuan yang sangat awam mengenai instalasi listrik PLN.

Berita Acara pun dibuat seusai pemeriksaan yang mau tidak mau di ttd oleh istri saya saat itu sebagai bentuk itikad baik dan tidak melakukan upaya perlawanan atau penyuapan, walaupun pemeriksaan dilakukan tanpa ada pihak saksi sekalipun. Terdapat temuan dan laporan sebagai berikut : SETEMPAT PADA SAAT DIPERIKSA SEGEL TERA KIRI DAN KANAN ADA, KEDAPATAN KABEL NOL PLN LANGSUNG KEBEBAN (STOP METER), DENGAN ARUS TERUKUR I=3.3A. SEGEL OK TIDAK ADA (PUTUS) DI LILIT MENGGUNAKAN KAWAT.

Photo Petugas Pemeriksa P2TL (2)Dari temuan tersebut, dapat diartikan bahwa kami sebagai pemilik rumah saat ini  dinyatakan bertanggung jawab perubahan terhadap instalasi meteran PLN. Sebagai informasi, kami membeli rumah di Des 2011 dan merupakan pemilik rumah ke-2 setelah pembeli pertama. Di hari pemeriksaan tersebut pula, perbaikan terhadap kabel nol yang tidak proper pun dilakukan. Namun bukti resmi dari PLN bahwa kabel nol sudah diperbaiki juga tidak ada, bisa-bisa besok-besok kita kena lagi donk? :)

Jika terjadi kebocoran arus dengan I=3.3A, berapa sih maksimum jumlah daya (Watt) yang bocor dan berapa maksimum biaya setiap bulannya? Berapa sih jumlah tagihan bulanan saya jika maksimum terpakai setiap bulannya? Apakah benar kabel yang tidak proper itu sengaja dibuat untuk mendapatkan arus listrik lebih “gratis tanpa bayar”? Kalau ya sengaja dibuat, seharusnya ada selisih tagihan yang keliatan nantinya setelah normalisasi / perbaikan dilakukan saat pemeriksaan. Kita lihat nanti deh ya, but dont expect PLN mau peduli kali ya? 😀

Setelah Surat Panggilan kedua saya terima, maka dengan itikad baik saya mendatangi kantor area Cengkareng untuk klarifikasi hal tersebut dan bertemu . Saya diinfokan (secara verbal) jenis pelanggaran dan sanksi yang diberikan adalah sebesar 29jt dengan dasar perhitungan berdasarkan SK Direksi PLN 1486, berdasarkan system dan diberikan print out nya. Memang belum ada surat resmi dari PLN setempat untuk hal ini.

Pada panggilan ketiga juga, saya dan istri kembali mendatangi kembali kantor area PLN Cengkareng dan berdiskusi langsung dengan Pejabat tertinggi terkait sekaligus mengajukan surat keberatan kami. Kami diterima dan dilayani dengan sangat baik dan kooperatif dalam mendengarkan semua pembelaan kami. Saya dan istri berterima kasih setinggi-tingginya atas sikap, dedikasi dan ketegasan beliau dan rekan-rekan PLN lainnya.

Namun sayangnya dari dari sharing dan diskusi tersebut tidak ada kebijakan lebih lanjut yang sesuai dengan aspirasi kami. Dari hasil diskusi kami, diindikasikan ada pencurian daya listrik yang kami nikmati selama ini. Jika daya terpasang listrik kami (3500 Watt), namun pembayaran tagihan bulan dicurigai sangat kecil / diluar batas kewajaran

Dari hasil diskusi tersebut, kami juga dihimbau untuk segera membayar dan diberikan waktu yang singkat (7hari) sebelum listrik kami dicabut. Jadi buat kami saat itu, Tidak ada kebijaksanaan lain dari pihak PLN buat kami konsumen yang tidak bersalah selain MEMBAYAR atau MENCICIL pembayaran sanksi tersebut. Undangan untuk datang dan menandatangani SPH (Surat Pengakuan Hutang) puny sampai kepada kami.

Akhirnya di tanggal 3 Februari 2016, kami benar-benar merasa didesak oleh mekanisme dan prosedur dari pihak PLN Cengkareng. Pagi-pagi sekitar jam 7 pagi, kami didatangi oleh 3 petugas yang sudah siap untuk melakukan pemutusan sementara aliran listrik. Padahal sudah rencana saya sebentar lagi untuk datang ke kantor PLN dan melakukan pembayaran.

Di kantor PLN Area Cengkareng saya bertemu dengan petugas terkait dan sempat memperjuangkan 1 surat pernyataan dan perjanjian bersama bahwa SPH saya tandatangani dengan catatan khusus, namun lagi-lagi mereka menolak dengan alasan yang gak jelas. Proses penandatanganan SPH (dengan 2 catatan kaki tulis tangan) dan pembayaran pun selesai saya lakukan. Sorry to say dan sejujujurnya, kami lakukan ini dengan sangat-sangat terpaksa, mengingat hari itu kami membutuhkan listrik di rumah agar tetap bisa hidup dengan normal.

Sungguh buat kami, sesuatu yang miris dalam hati kami. Ditengah pergumulan dan impian kami untuk renovasi rumah, mempersiapkan sekolah buat buah hati kami serta mengumpulkan modal untuk usaha, kami mendapatkan permasalahan ini dengan PLN Cengkareng. Ada banyak hal yang terkuras buat kami selama proses ini, mulai dari uang, waktu, pekerjaan yang terganggu, waktu untuk anak sampai perasaan emosional dari keluarga serta pikiran.

Memang berat ya  memperjuangkan keadilan?  Memperjuangkan keadilan & kebenaran jika kita dipersalahkan atau diberikan punishment atas sesuatu yang tidak kita lakukan. Apalagi jika berhadapan dengan Negara dengan segala aturan dan undang-undangnya. BUKAN BERARTI PERJUANGAN BERAKHIR KAN?

Menindaklanjuti hal ini maka kami mencoba mengajukan keberatan dan peninjauan kembali lanjutan ke pihak Kantor Wilayah Distribusi Jakarta Raya dan sementara itu kami juga mengajukan laporan kami ke pihak-pihak seperti Ombudsman, lembaga perlindungan konsumen seperti YLKI, BPKN, BPSK serta media social dan media cetak. Hal ini sebagai peran serta aktif kami sebagai warga negara yang ingin membuka mata dan memberikan edukasi kepada seluruh warga bangsa Indonesia agar melek dan peduli terhadap listrik dan Badan Negara yang mengelolanya.

Sebagai warga negara dan konsumen yang tidak bersalah atas temuan tersebut, kami juga membuat Surat Pernyataan tertulis serta Surat Laporan Warga kepada instasi pemerintah terkait (RT/RW,dsb) sebagai itikad baik kami memperjuangkan keadilan lewat jalan yang benar dan sesuai kewajiban kami sebagai warna negara yang baik.

Ingin tau dan lihat lebih detail dokumen-dokumen tersebut dan dokumen lainnya, seperti BAP P2TL, surat Panggilan, Riwayat Tagihan Listrik, dll nya, Silahkan klik disini!

Kami akan terus mencoba berjuang untuk minta pemeriksaan kembali lebih lanjut terhadap instalasi listrik rumah kami, verifikasi kembali semua tagihan kami selama beberapa tahun terakhir, sebelum dan setelah normalisasi. Kami sendiri ingin membuktikan apa yang sudah dinyatakan sebelumnya bahwa ada indikasi bahwa kami telah menikmati pencurian listrik dengan memanipulasi kabel nol PLN. Apakah dari semua kewajiban pembayaran listrik yang sudah kami lakukan dengan tertib setiap bulannya, terbukti ada daya listrik yang kami nikmati dan tidak kami bayarkan kepada Negara?

Kalaupun memang benar, sebenar-benarnya kami terbukti merugikan Negara dari pemeriksaan & verifikasi lanjutan ini, kami bersedia membayar sejumlah selisih yang selama ini tidak dibayarkan ke Negara, tentu dengan perhitungan yang lebih adil dan proporsional buat kami dan bukan sekedar asal hitung atau pukul rata hitungannya, walaupun itu dari aturan resmi sekalipun.

PROFIL-KWH

Kami tahu dan mengerti bahwa P2TL dibentuk dengan maksud dan tujuan yang baik untuk tertib listrik secara nasional. Dengan semangat dan prosedur yang sudah dibuat, idealnya P2TL dapat mewujudkan cita-cita mulia PLN tersebut. Namun (mohon maaf) jika pada pelaksanaannya masih terdapat celah dimana konsumen yang tidak bersalah, tidak tahu dan tidak mengerti karena kurangnya informasi, secara tidak langsung dan sangat mudah menjadi korban mekanisme penertiban seperti ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada BUMN, namun kami dapat membenarkan apa kata banyak orang selama ini bahwa PT.PLN (persero) bertindak sebagai polisi yang menangkap, sebagai jaksa yang mendakwa dan sebagai hakim yang memberikan keputusan dan menjatuhkan hukuman. Dimana sebenarnya keadilan yang sebenarnya untuk kami para konsumen mu, jika kurang dihormatinya dan kurang diberikannya ruang untuk melakukan pembelaan? Apakah mekanisme yang sudah diterapkan PLN selama ini efektif dan tepat sasaran sesuai cita-cita mulia tertib listrik secara nasional?

Dalam kasus ini, kami mencoba berpikir realistis. Jika sudah banyak kasus yang terjadi kenapa hal tersebut terus berulang dan pada akhirnya menimpa kami? Kalau hari ini kami menjadi korbannya, bukan tidak mungkin kelak Anda akan punya cerita yang sama seperti kami.

Kenapa seakan-akan kami melihat terjadi pembiaran terhadap praktek semacam ini untuk dilakukan terus menerus? Dimana edukasi dan pelajaran yang diberikan oleh PLN dalam hal ini? Apakah ini adalah cara dan mekanisme resmi PLN mengejar “maling listrik” agar mereka jera? Efektif kah dalam menangkap, atau malah asal gebuk? JERA atau KECEWA?

Kenapa PLN tidak membuat langkah action preventif yang efektif? Membuat mekanisme yang lebih clear dan lebih tertib lagi. Misalnya dengan aturan menerbitkan sertifikat layak listrik untuk setiap rumah yang diperjual belikan? Secara tidak langsung, penjual/pembeli/pihak developer akan aware untuk hal ini dikemudian hari.

Kenapa PLN tidak punya langkah dan kebijaksanaan seperti badan Negara yang lainnya seperti Dirjen Pajak yang memberikan Sunset Policy berupa penghapusan sanksi untuk mengejar tujuan utama yaitu  mengetahui ketidakbenaran pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat. Jadi diberikan waktu,  kesempatan dan kebijaksaan untuk Warga menertibkan diri. Masih banyak kebijaksanaan yang lain seperti sanksi PBB, sanksi dari PAM, dsb.

Apa yang  sebenarnya lebih diutamakan untuk menertibkan pemakaian listrik negara? Preventif atau Korektif? Kalau sering kita mendengar petugas P2TL mendatangi rumah -rumah warga untuk pemeriksaan dan melaporkan jika ada temuan, apakah kita pernah mendengar petugas PLN mendatangi rumah-rumah warga atau perumahan untuk memberikan himbauan / info / brosur/ pamflet mengenai mencegah dan sadar akan pengecekan dan penertiban listrik?

Sebuah refleksi dan sebuah pembelajaraan, Orang benar jangan berdiam diri untuk memperjuangkan keadilan!

 

Salam Sukses,

JagoanInternet.Com

 

NB: Teman-teman punya komentar, saran, masukkan dan pengalaman yang sama? Berikan support dan dukungan serta masukkan buat kami ya dalam komentar dibawah ini. Thanks!

Tulisan diatas adalah murni kronologis kisah dan curhatan hati kami tanpa maksud apapun untuk menjelekkan atau merugikan pihak manapun serta untuk tujuan yang baik dan membangun bersama. Mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam hal ini.

Tulisan diatas sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama anak bangsa Indonesia yang mengalami hal yang sama. Yang bingung dan tidak tahu harus kemana untuk memperjuangkan keadilan. Sekali lagi semua tulisan diatas dibuat tanpa maksud menjelekkan dan menyudutkan pihak manapun. KAMI INGIN BANGSA INI MAJU DAN BELAJAR SERTA MAMPU MENSEJAHTERAKAN RAKYATNYA, SECARA ADIL DAN BERADAB…

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

David ML Tobing:Sisi Lain Kepedulian Seorang Advokat

Ia salah seorang dari sedikit advokat yang peduli pada nasib konsumen. Putusan atas perkara yang dia tangani menjadi preseden baik bagi pencari keadilan. Semangatnya perlu ditiru advokat lain.

David Tobing - www.jagoaninternet.com

Kidung pujian kepada Tuhan bersenandung dari salah satu ruangan hotel di bilangan Jalan Sudirman Jakarta, penghujung Oktober lalu. “Harus membawa berita pada dunia dalam gelap. Tentang kebenaran dan kasih, dan damai yang menetap”. Lagu pujian tersebut mengawali peringatan dan syukuran 10 tahun kantor pengacara Adams & Co., Counsellors at Law.

 

Waktu 10 tahun memang bukan waktu yang singkat. Apalagi untuk sebuah kantor advokat yang menapaki tangga kesuksesan satu persatu, secara perlahan. Komitmen orang-orang yang menyangga kantor tersebut menjadi kunci penting menapaki tangga kesuksesan. Orang-orangnya harus berani membuat terobosan dengan melakukan sesuatu yang mungkin tidak dipikirkan atau ditapaki orang lain. Atau, seperti bahasa kidung suci tadi, harus berani “membawa berita pada dunia dalam gelap”.

 

Tidak semua orang bersedia “membawa berita pada dunia dalam gelap”. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai advokat, profesi yang bergelimang iming-iming kemegahan duniawi. Profesi yang banyak mempertimbangkan materi di balik keputusan menerima atau menolak klien. Lantaran lebih banyak orang yang melihat materi sebagai garda terdepan pembelaan, nasib orang-orang kecil terpinggirkan. Perkara-perkara ‘receh’ meskipun menyangkut nasib banyak orang kurang diperhatikan.

 

Pakem itulah yang coba diterobos David Maruhum Lumban Tobing. Pria bernama lengkap David Maruhum Lumban Tobing ini dikenal sebagai advokat yang peduli pada nasib konsumen. Kepeduliannya bukan sekadar peduli di mulut, melainkan ia tunjukkan lewat aksi hukum yang bermartabat. Baik mewakili klien maupun mengatasnamakan dirinya Bahkan pernah mewakili anak-anaknya yang masih balita.

 

Profil Singkat

 

Educational Background
Faculty of Law, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia (S.H. 1995), Specialist Programs for Notary and Lands, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia (Sp.N. 2000), Master Degree for Notary, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia (M.Kn. 2005).

License
Advokat (PERADI), Mediator (The Indonesian Mediator Center).

Work Experiences
Practicing Lawyer in Legal Assistance Foundation (Lembaga Bantuan Hukum-LBH) Jakarta (1994-1995); Practicing Lawyer in Lumban Tobing dan Rekan Law Firm (1995-1999); Member of Jakarta Lawyers Cub (2002-2003); Member of work group Commission for the Supervision of  Business Competition – KPPU (Feb 2002- Dec 2005); Member of Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN); Member of Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI); Member of The Indonesian Mediator Center; Member of Indonesia Young Entrepreneur Jakarta Raya (HIPMI JAYA).

Sumber: http://adams.co.id

 

Sebagai wujud kepeduliannya pada hak-hak konsumen, kantor Adams & Co, dimana David bekerja, kini memiliki divisi khusus Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.

 

Niat suci dan luhur acapkali mendorong David mengadvokasi kliennya hingga ke pengadilan. Tengok saja ketika ia mendampingi Anny R Gultom dan Hontas Tambunan. Anny dan Hontas kehilangan mobil kijang Toyota Super B 255 SD di pelataran parkir Plaza Cempaka Mas. Mobil ini sangat berarti bagi Anny dan Hontas karena sering dipakai untuk mengangkut jemaah gereja. Kehilangan mobil tersebut akan menganggu aktivitas keagamaan. Ironisnya, bukti-bukti kepemilikan dan tanda parkir masih ada di tangan Hontas. Lantas, mengapa mobil itu bisa lolos dari pengawasan petugas parkir? “Naluri saya tergerak untuk membantu,” kata pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

 

Selama ini, orang yang kehilangan kendaraan hanya bisa curhat lewat surat pembaca atau milis kelompok. Pengelola jasa perparkiran nyaris selalu cuci tangan dan lepas tanggung jawab. Untuk memperkuat basis sikap pengelola jasa parkir, mereka menggunakan klausula baku dalam tiket parkir. Di lokasi parkir pun selalu tertulis pengelola tidak bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan.

 

David mencoba menerobos pakem itu dengan menyeret pengelola jasa perparkiran, Secure Parking, ke meja hijau. Upaya David ternyata berhasil. Pengadilan tingkat pertama, banding, hingga Mahkamah Agung memenangkan gugatan Anny dan Hontas. Secure Parking diwajibkan membayar ganti rugi Rp60 juta.

 

Ini bukan satu-satunya upaya membawa pengelola jasa perpakiran ke meja hijau. Gara-gara menaikkan tarif parkir tidak sesuai peraturan perundang-undangan, David tampil sendiri sebagai prinsipal menggugat Secure Parking. Keberuntungan kembali berpihak kepada David. Mahkamah Agung mengabulkan gugatan ganti rugi seribu rupiah. Gara-gara gugatan itu, ia sempat dijuluki pengacara seceng. Kali lain, ia mewakili Sumito Y. Viansyah untuk menggugat pengelola jasa perparkiran yang sama karena kehilangan sepeda  motor. Hingga Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, tergugat diwajibkan membayar ganti rugi. Tahun 2009, ia kembali dipercaya mengajukan eksekusi atas putusan MA dalam perkara PT Securindo Packatama Indonesia melawan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Bandung. Ia menjadi kuasa Riwandi Kencana yang kehilangan motor di lokasi parkir.

 

David mengaku sangat gundah melihat banyaknya jasa layanan publik yang menggunakan klausul baku. Kenyataan itu membuktikan bahwa pelayan publik pub mengabaikan larangan menggunakan klausul baku dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Pelaku usaha dalam menawarkan barang/jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian. “Tetapi, klausula baku masih sering kita jumpai sehari-hari,” keluh David.

 

Klausula baku itu malah dimuat dalam peraturan daerah. Itu sebabnya, David pernah mengajukan uji materi pasal yang memuat klausula baku dalam Perda DKI Jakarta No. 5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Meskipun uji materi itu kandas, kepedulian David pada masalah konsumen tidak berhenti.

 

Dari perparkiran ke pelayanan bandara

Kepedulian David mengenai perparkiran melahirkan sebuah buku dengan tema yang sama. Buku ‘Parkir’ itu bercerita tentang pengalaman David menangani perkara perparkiran di pengadilan. Bagi David, kasus itu penting diketahui publik bukan saja untuk pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya David menjawab cemooh sejumlah orang. David dianggap terlalu mencari-cari perkara, termasuk yang “receh-receh”.

 

Cemooh itu tak mematikan semangat suami Aurora Panggabean ini. Sebab, ia punya prinsip “jika setia pada perkara kecil maka akan diberikan tanggung jawab atas perkara besar”.

 

Prinsip itu lagi-lagi ia tunjukkan dalam pelayanan penerbangan dan bandara. Tercatat dua kali ia melayangkan gugatan. Pertama, gugatan terhadap Lion Mentari Air Lines. Ketika banyak orang hanya bisa berkeluh kesah dan menggerutu—bahkan marah-marah—akibat delay penerbangan, David memilih jalur hukum. David menganggap delay yang dilakukan perusahaan penerbangan tanpa alasan yang logis ditambah menelantarkan konsumen jasa penerbangan, sama saja dengan perbuatan melawan hukum. Konstruksi pemikiran yang dibangun David ternyata diterima hakim. Putusan atas perkara ini sudah berkekuatan hukum tetap, dan mungkin bisa menjadi yurisprudensi.

 

Gugatan kedua melawan Menteri Perhubungan dan PT Angkasa Pura II. Penyebabnya sederhana, gara-gara penyesuaian airport tax yang tidak sesuai prosedur yang ditetapkan peraturan perundang-undangan. PN Jakarta Pusat mengabulkan gugatan David, dan para tergugat diminta membayar ganti rugi sepuluh ribu rupiah! Perkara ini masih dalam tahap banding.

 

Meskipun tak banyak advokat yang peduli pada perkara kecil seperti itu, David yakin seorang advokat yang benar-benar mencintai profesinya harus peduli pada ketidakadilan yang dialami masyarakat sekitar. Ironisnya, kebanyakan advokat lebih melihat materi sebagai dasar menangani perkara. Sikap inilah yang menjauhkan advokat dari masyarakat.

 

Lantaran kepeduliannya pada masalah-masalah konsumen, David terlibat pada aktivitas Koalisi Anti Korupsi Ayat Rokok. Koalisi ini mempersoalkan hilangnya “pasal tembakau” dalam Undang-Undang Kesehatan. Lulusan magister kenotariatan ini juga berkomunikasi intens dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Direktorat Perlindungan Konsumen Departemen Perdagangan. Siapa tahu suatu saat David juga dipercaya menjadi anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional.

 

Pengurus Nasional Peradi tampaknya juga melihat kepedulian David. Karena itu. Sejak Mei 2009 lalu, David ditunjuk menjadi Wakil Ketua sekaligus anggota Pusat Bantuan Hukum Cuma-Cuma (PBH) Peradi. PBH ini didirikan sebagai tindak lanjut pemberian jasa bantuan hukum probono kepada kaum miskin yang diamanatkan UU Advokat dan Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2008.

 

Mengharapkan materi dari perkara-perkara kecil tersebut bisa dibilang mimpi. Toh, apa yang dilakukan David bisa memotivasi orang lain untuk terus memperjuangkan hak-haknya dengan benar. Menuntut hak bukan dengan adu jotos, melainkan dengan cara-cara yang elegan. Bagi David, mengurusi hal-hal kecil menjadi pelajaran bagi kita agar mampu menangani perkara besar. Jika tidak bisa dan peduli pada hal-hal kecil, sama saja kita melihat semut di seberang lautan. “Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,” begitu kata David suatu kali.

 

Lepas dari kelebihan dan kekurangan, David percaya bahwa kualitas seorang advokat bukan kata tanpa makna. Kualitas lahir dari harmoni antara antara doa, integritas, ketekunan, kerja keras, dan pengabdian. Harmoni itu terasa syahdu diiringi bait doa yang berkumandang di malam 10 tahun Adams @ Co, Oktober lalu: “Kusiapkan hatiku Tuhan, untuk dengar firman-Mu saat ini”.

 

sumber : http://www.hukumonline.com/berita

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

The Power of “Surat Pembaca”

Antara saya, mamah saya dan Asuransi Bumiputera

Setelah papah saya meninggal dunia, dan saya mudik ke Solo untuk pemakamannya, kami menghadapi satu masalah lain yang membuat mamah saya jadi lebih ikhlas, legowo, sekaligus semeleh. Lain mamah, lain pula saya yang masih saja meledak-ledak, sehingga saya memutuskan untuk menulis surat pembaca berikut:

 “Agen Bumi Putera Tidak Menagih, Klien yang Disalahkan”

Ibu saya peserta asuransi jiwa Bumi Putera (cabang Solo) dengan nomor polis 2000341973. Sebelumnya, ibu saya mengikuti asuransi pendidikan untuk anak-anaknya, dan tidak pernah ada masalah. 

Asuransi jiwa yang ibu saya ikuti sejak tahun 2000, seharusnya memberikan perlindungan ketika orangtua saya (baik ibu/bapak) meninggal. Polis asuransi tersebut dibayarkan setiap enam bulan sekali, yaitu bulan Oktober dan April, sebesar Rp. 438.744. Selama mengikuti asuransi, ibu saya tidak pernah menunggak. Agen asuransi, Ibu Yohana, selalu datang ke rumah untuk menagih polis asuransi.  

Entah kenapa, pada bulan April 2008, Ibu Yohana tidak datang. Juga tak ada agen lain yang datang menggantikannya, seandainya ada pergantian agen. 
Ketika ayah saya meninggal dunia pada bulan Agustus 2008, ibu saya hendak mengklaim asuransi jiwa ybs. Tetapi, karena dianggap ibu saya menunggak satu kali, maka tidak bisa mendapat klaim yang dijanjikan Rp.40.000.000,- Kami sudah menjelaskan bahwa masalahnya adalah, Ibu Yohana (agen) tidak juga datang menangih. Petugas Bumi Putera yang menerima kami, Bp Taufik Nur H. dan Ibu Yuni Sri Hastuti, malah mengatakan, Ibu Yohana kini berada di Manado. Mereka juga mengakui pada bulan April 2008 memang ada mutasi agen asuransi di Bumi Putera. Malah ada ucapan, agen tersebut memang bermasalah. Bagaimana kami tahu agen tersebut bermasalah? Sebagai klien yang berhubungan dengan agen tersebut, kami tak pernah diberitahu soal ini sebelumnya. 

Meskipun permasalahannya sudah jelas bahwa kesalahan bukan ada pada kami (klien), pihak Bumi Putera tetap tak mau memberikan total klaim kami. Karena lelah berdebat, kami akhirnya menerima keputusan untuk hanya memperoleh klaim sebesar nilai pokok yang sudah dibayarkan. Dalam hitungan kami, itu berarti 14 x Rp. 438.744 = Rp. 6.142.416,-

Uang sebesar itu pun tetap tak kami dapatkan. Kami hanya memperoleh Rp. 894.000, yang artinya tak lebih dari premi selama satu tahun saja! Benar-benar mengecewakan, di tengah suasana duka keluarga kami, itulah yang kami peroleh dari Asuransi Bumi Putera. 

Saya tak tahu kenapa kebijakan perusahaan untuk memindah atau menggantikan agen-agennya harus merugikan hak-hak klien. Saya kuatir keteledoran agen semacam ini akan menjadi modus baru perusahaan asuransi untuk mengakali kliennya. Bisa saja sesekali agen memang sengaja tidak datang menagih. Jika klien tidak meninggal, mereka akan menagih dobel di masa berikutnya; jika klien meninggal, mereka akan menganggap klien menunggak. Dengan cara ini hanya ada satu kesalahan: kesalahan klien. Semoga pengalaman kami bisa menjadi pelajaran bagi klien lain, sehingga tidak berlaku pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula.

RATIH KUMALA

 

Demikianlah, hari ini (28/8) surat itu dimuat di halaman Surat Pembaca harian KOMPAS. Pagi-pagi, mamah saya tiba-tiba telepon dan bilang bahwa pihak Asuransi Bumiputera datang ke rumah (di Solo) menanggapi surat itu.

Bumiputera menawarkan Rp. 4 juta untuk mengganti premi yang dibayarkan, yang sebenarnya sudah mencapai Rp. 6 juta lebih. Sejujurnya, saya kecewa. Bagi saya, uang itu hanya sebagai uang ‘minta maaf’. Tapi, mamah saya yang menganut ilmu ikhlas, ujarnya “sudah untung bisa dapat, ketimbang cuma 800ribu itu.”

Baiklah, urusan Asuransi Bumiputera yang membuat saya naik pitam itu, mau tak mau, demi membuat lega hati mamah saya, harus saya terima dengan ikhlas. Saya memang harus banyak melatih diri, saya sadar benar itu. Dan ini adalah salah satu latihan saya. Meskipun hingga sekarang saya sebenarnya masih bergemuruh dan masih terngiang-ngiang kalimat Malcolm X, “…, tetapi jika kaki saya diinjak, saya akan melawan.”

 

Tulislah! Dan kirim ke “Surat Pembaca”

Meski harus ikhlas menarima uang minta maaf yang jumlahnya hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga satu bulan itu, saya tetap mengajak pembaca/blogger untuk tidak segan-segan membuat surat pembaca jika merasa pernah dirugikan oleh pihak yang lebih besar (perusahaan, dll). Bagaimana caranya?

1. Kita harus tahu bahwa permasalah yang ada bisa juga menimpa orang lain, dengan kata lain, ini adalah masalah menyangkut publik.

Setelah saya cek di internet, ternyata keluhan jasa asuransi (tidak hanya Bumiputera) ada di mana-mana. Berarti ada yang salah dengan sistem asuransi lokal kita, sebab banyak konsumen yang merasa dirugikan.

2. Tulis dengan jelas, inti dari permasalahan, dengan kalimat yang santun dan tidak berbelit-belit. Ingat, ruang di koran itu sangat sempit, dan banyak orang ingin mengeluh. Lagipula, menulis dengan panjang pun akan bisa diedit/dipotong oleh pihak media.

3. Jangan lupa sertakan detail.

Dalam kasus saya, misalnya, saya menyertakan nomor polis asuransi. Selain itu, sangat membantu jika kita mengingat-ingat customer service/siapa pun nama orang yang menghadapi kita saat terjadi ketidaknyaman yang dikeluhkan.

4. Harus ada KTP

Ini penting: kita harus menyertakan KTP atau kartu identitas lainnya. Jika tak ada ini, sepelik apa pun masalahnya, tidak bisa membuktikan kebenarannya. Surat Pembaca melibatkan pihak lain yang dikeluhkan, jika identitas tidak jelas, sama saja tidak ada pertanggungjawaban. Di kebanyakan Surat Pembaca, alamat lengkap juga harus dicantumkan.

5. Kirim ke koran segala keluhan dan berkas yang ada, lalu duduk tenang dan menunggu  keluhan kita dimuat di surat pembaca.

Ingat, yang kita lakukan ini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang buang energi marah-marah, main pengacara, maupun mengancam sambil bawa polisi. Satu hal lagi, dengan cara ini, kita melakukan perlawanan dengan cara yang sangat elegan dan enggak norak. Seperti yang selalu suami saya bilang, “kita harus belajar untuk jadi lebih cool”.

 

Jika surat Anda sudah dimuat, akan ada tanggapan langsung dari pihak yang dikeluhkan (ini kalau perusahaan tersebut masih waras dan masih sayang konsumen). Seperti mamah saya itu tadi, pagi-pagi, belum sempat nyapu-ngepel, orang Bumiputera tiba-tiba muncul dengan gaya yang sopan dan menawarkan ‘uang minta maaf’. Nah, kalau sudah begini, biasanya di koran akan ada jawaban/konfirmasi dari pihak yang bersangkutan ke surat pembaca yang sama dengan nada kira-kira begini: “permasalahan sudah diselesaikan dengan cara mufakat”. (Ngomong-ngomong ini adalah kalimat standard yang kelihatannya dihapal public relations setiap perusahaan meski sebetulnya belum benar-benar terjadi kemufakatan –percaya deh, saya pernah jadi PR Officer, ya gitu deh!).

Satu hal yang saya pelajari dari teman saya Nurredan adalah “get a big thing or nothing”. Jika kata ‘mufakat’ itu hanya dari sebelah pihak, maka kita harus punya daya tahan banting yang cukup besar (atau minimal dibutuhkan bebal kepala dengan kapasitas cukup), sehingga kita bisa membalas ke koran yang sama bahwa: “kemufakatan belum sepenuhnya terjadi”. Ingat, sekali lagi gunakan kalimat yang santun, juga sebutkan tanggal serta judul surat pembaca yang ditanggapi sebelumnya.

Pingpong semacam ini kelihatannya sepele, namun sebenarnya Surat Pembaca adalah satu-satunya harapan bagi konsumen/publik yang dirugilan. Jika  Lembaga Perlindungan Konsumen (YLKI) tidak bisa melaksanakan fungsinya, maka masih ada harapap di luar sana lewat media massa. Saya sangat berterimakasih pada koran harian yang membuka halaman Surat Pembaca, you have no idea how helpful it is! :)

 

Kirim ke mana?

Jika Anda tinggal di daerah, koran daerah berperan sangat penting. Jika Anda bisa masukkan ke koran nasional, lebih bagus lagi. Sebab surat Anda akan terbaca lebih luas. Ini daftar email koran yang bisa kita kirimi keluhan publik:

1. Kompas = kompas@kompas.com

2. Suara Merdeka = redaksi@suaramerdeka.com

3. Koran Sindo = redaksi@seputarindonesia.com

4. Republika = redaksionline@republika.co.id

5. Suara Pembaruan = koransp@suarapembaruan.com

 

Epilog

Saya sendiri mengirimkan ke hampir semua koran di atas, plus satu koran daerah yaitu Solopos. Jika kemufakatan hanya terjadi pada satu pihak, dan kita masih merasa dirugikan, setidaknya kita bisa membuat sedikit kerepotan perusahaan karena harus membersihkan namanya di banyak media massa.

 

sumber : http://ratihkumala.com/

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Trik Menulis Keluhan di Surat Pembaca

Ketika saudaraku mengeluh atas pelayanan manajemen sebuah developer dan ingin memasukkannya di koran, saya jadi inget peristiwa hampir 3 tahun yang lalu ketika menulis ke Surat Pembaca Kompas dan dimuat tanggal 18 September 2008, mengenai keluhan layanan BlackBerry Indosat.

Surat Pembaca (SP) di media (apalagi Kompas, yang merupakan koran dengan tiras tertinggi di Indonesia) memang sangat ampuh sebagai tempat untuk curhat ketika semua pintu pengaduan sudah tersumbat.

Ingat kasus SP Kompas mengenai patwal iring-iringan SBY yang arogan? Kasus itu bermula ketika seorang warga Cibubur, Bpk Hendra NS mengeluh di Kompas tanggal 16 juli 2010 dengan judul ‘Trauma oleh Patwal Presiden’. Isinya mengenai perlakuan patwal presiden yang arogan dan betapa banyak warga yang terganggu oleh iring-iringan SBY ketika berangkat dari Cikeas menuju Istana Merdeka, yang membuat banyak pengguna jalan terganggu karena tertahan, dan terakhir, closing statement dari pembaca tersebut sangat menggugah, meminta agar SBY pindah ke Istana Negara sebagai kediaman resmi Presiden, daripada ‘mengganggu’ kelancaran kebanyakan warga ketika iring-iringan presiden lewat.

Tidak menunggu lama, dalam hitungan jam reaksipun bermunculan. Patwal yang bersikap arogan diselidiki, iring-iringan patwal dievaluasi, Presiden SBY memerintahkan pemangkasan jumlah iring-iringan, dan bermunculan wacana agar presiden menggunakan helikopter ketika berangkat kerja ke Istana. Yang jelas, SBY pasti akan lebih rikuh, karena seharusnya Presiden tinggal di Istana sehingga pemerintahan lebih efektif.

Itulah kekuatan media!

Kembali ke keluhan yang pernah saya alamatkan ke SP Kompas 18 September 2008 mengenai Layanan BlackBerry Indosat. Kompas sebagai media dengan magnitude yang besar tidak mudah memasukkan suatu keluhan di SP-nya. Ada ratusan surat dan email  yang terkirim ke SP Kompas setiap harinya, dan pasti hanya sedikit yang terpilih. Inilah tip dan trik agar dapat diterbitkan dikoran:

  1. Masalah harus teridentifikasi dengan jelas. Ada tanggal dan peristiwa, juga nama dan tempat dari orang yang mungkin akan kita keluhkan. Sampaikan secara kronologis. Hal itu untuk menghindari fitnah dan keotentikan dari suatu keluhan.
  2. Jangan bertele-tele, straight to the point, sampaikan dengan kalimat yang menggugah tapi tidak sentimentil.
  3. Lengkapi dengan data diri yang jelas dan data pendukung lainnya. Apabila komplain mengenai BlackBerry seperti yang saya lakukan, maka tanpa dimintapun saya menyertakan billing terakhir abonemen BB saya.
  4. Kirim lewat email dan pos!
  5. (Dan ini yang paling penting, seperti yang saya dapat bocoran dari orang Kompas sendiri, hehehe) Dimonitor! Kompas adalah media dengan teknologi infomasi yang sudah bagus. Sehari setelah email dikirim dan surat diposkan, telponlah redaksinya, tanyakan apakah surat yang kita kirimkan sudah diterima.
  6. Telponlah lagi pada keesokan harinya, belagak pilon, menanyakan ‘kok belum terbit?’, sampaikan juga bahwa secara paralel kita sudah berusaha menghubungi langsung ke perusahaan yang kita komplain, tapi hasilnya nihil.
  7. Apabila masih belum, selang berapa hari kemudian, hubungi lagi ke redaksinya, dan sampaikan bahwa benar-benar mengharapkan bantuan dari media untuk diterbitkan, karena ternyata (yang ini bumbu-bumbunya ya, hehehe) banyak korban lain yang bermunculan. Hal ini akan membawa redaksi dari personal interest ke public interest, sehingga lebih tergugah.
  8. Insya Allah, apabila memang topik yang anda sampaikan bagus, dan dengan dimonitor seperti itu, akan dimuat di Kompas. Pengalaman saya butuh seminggu dan 4 kali telepon sejak email ke SP dilayangkan.
  9. Sebenarnya ada trik yang paling jitu, kalo bisa kenal dengan orang dalam Kompas-nya, apalagi jika kenal dengan Jacob Oetama, pasti deh langsung dimuat, hahaha…

sumber : https://ahmadramadlan.wordpress.

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube