Menanti Kehadiran Jokowi Effect Jilid II


Bursa Efek Indonesia.

Kita tentu masih mengingat bagaimana dalam hitungan menit, IHSG melonjak drastis setelah Joko Widodo yang kala itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta memutuskan maju sebagai calon Presiden RI.

Selepas jeda siang pada awal 2013, tepatnya pada Jumat (14/3), salah satu pojok ruang di PT Bursa Efek Indonesia terlihat sepi, yang tampak hanya pria paruh
baya memandang dua monitor perdagangan saham yang tak terlalu bergairah.

Di sekitarnya, ada dua pria lain sibuk dengan komputer masing-masing. Menjelang penutupan perdagangan saham, tepatnya sekitar pukul 15.00 WIB, tiba-tiba volume suara televisi di ruangan tersebut diperbesar.

Ternyata ada berita Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, yang mengikrarkan diri sebagai calon Presiden RI periode 2014-2019. Sontak suasana ruangan itu berubah hiruk pikuk. Segala jenis komentar bermunculan mulai dari dukungan hingga kritikan terhadap keputusan Jokowi tersebut.

Pria paruh baya itu kembali memantau monitornya. Dia kaget, IHSG meroket. Dua pria lain ikut berkumpul di sekitar monitor itu dan memandang takjub melihat pergerakan IHSG. Mereka pun menghitung: “4.789, 4.800, 4.813…” dan pada akhirnya IHSG ditutup pada level 4.878,64, naik 3,23% hanya dalam waktu kurang dari sejam.

Beberapa analis yang dimintai pendapatnya kala itu menilai pasar menyambut baik keputusan tersebut, walaupun ada juga yang menganggap faktor Jokowi hanya kebetulan saja mengangkat IHSG.

Hal ini mengingat sejak pagi telah terjadi capital inflow mencapai Rp6 triliun di bursa saham. Toh, sah-sah saja anggapan seperti itu. Dua tahun berselang, Jokowi Effect, begitu banyak orang menyebut momen tersebut, ternyata belum mampu mengerek kembali IHSG. Tercatat, indeks hanya berhasil naik 7,32% setelah Joko Widodo dan Jusuf Kalla dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.

IHSG sempat menyentuh level terendah 4.120,50 pada 28 September 2015 dan tertinggi 5.523,29 pada 7 April 2015. Jika dihitung dari level terendah pada periode tersebut, IHSG berhasil menguat 31,28%.

Apabila dibandingkan dengan periode kedua presiden Susilo Bambang Yudhoyono, IHSG dalam dua tahun menguat 44,78% dari 2.502,21 ke level 3.622,77.

Namun, kurang fair apabila membandingkan keduanya. Menurut Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, tipisnya pertumbuhan IHSG selama dua tahun terakhir terjadi lantaran perekonomian global belum stabil.

Jokowi, lanjutnya, mendapatkan warisan pertumbuhan ekonomi yang terus merosot dari pemerintahan sebelumnya.

“Jokowi sudah bisa menghentikan penurunan meski belum membuat kondisi lebih baik. IHSG cenderung flat, ke depan setelah ada Sri Mulyani, saya jadi berani memandang lebih bagus,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (19/10).

Tak tanggung-tanggung, Satrio memperkirakan IHSG dapat menembus level 7.000 dalam tiga tahun ke depan. Secara teknikal, level 7.000 menjadi resistance IHSG dengan kondisi yang volatile.

Saat ini, sambungnya, pemerintah masih mencoba melakukan berbagai penyesuaian di berbagai sektor untuk memacu perekonomian. Masuknya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, membuat penyusunan APBN lebih realistis antara harapan dan kenyataan.

GENJOT INFRASTRUKTUR

Pemerintah menggenjot sektor infrastruktur tanpa menambah beban utang secara berlebihan. Harapan penyematan investment grade oleh Standard and Poor’s diproyeksi membuat kupon bunga obligasi negara semakin ringan.

Saham-saham sektor infrastruktur dan consumer goods akan menjadi incaran saat pertumbuhan ekonomi membaik. Saham sektor semen, investasi,
properti, hingga manufaktur, bakal memperoleh sentimen positif lantaran moncernya ekonomi ke depan.

Pada kesempatan terpisah, Investment Specialist PT BNI Asset Management Akuntino Mandhany menuturkan penguatan tipis IHSG selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK terjadi lantaran kondisi ekonomi domestik dan global yang belum membaik.

Pasar saham yang belum positif akibat masih tertekannya kinerja emiten. Pendapatan perusahaan tertekan lantaran perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional dan global.

“Tahun ini agak naik, terbantu oleh tax amnesty. Tetapi secara fundamental masih belum kuat,” tuturnya.

Pemerintah dinilai belum mengubah struktur perekonomian secara radikal, berbeda dengan India yang mengalami perubahan pemerintahan dan melakukan perubahan secara besar-besaran.

Meski belum mengubah struktur ekonomi, lanjutnya, pemerintah telah memberikan dasar bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan. IHSG diproyeksi tumbuh kencang apabila perekonomian kembali melaju positif. Mari nantikan: Jokowi Effect Jilid II.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *