Kisruhnya Nyoblos Pilkada DKI di Taman Semanan Indah Jakarta Barat

Kisruhnya Nyoblos Pilkada DKI di Taman Semanan Indah, Jakarta Barat

Merasa  ada yang tidak benar atau tidak adil saat nyoblos Pilkada? Coba  baca tulisan saya ini & mungkin hal yang sama yang kamu alami.

Antusiasme yang besar terasa banget hari itu, 15 Februari 2017 Hari Pemilihan Kepala Daerah serentak untuk 101 daerah termasuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta.  Pagi hari saya bangun dan mencoba mengecek semua kelengkapan dokumen yang saya miliki. Surat Tanda Pencoblosan dan Surat Pemberitahuan model C6 pun sudah saya miliki. Setelah saya cermati, nomor TPS yang tercantum dalam dokumen-dokumen tersebut berbeda. Lembar Tanda Bukti Pencocokan & Penelitian Data Pemilih (Model A.A2 –KWK) dan Tanda Bukti Pendaftaran Pemilih (Model A.A1-KWK) tercantum TPS no 103, namun di lembar model C6 tercantum TPS 93. Aneh….

Merasa ragu dan agak was was, saya bergegas langsung menuju ke TPS jam 8-an pagi, lapangan Pos Cakra yang biasanya tempat buat TPS. Benar saja, disana ada 3 TPS yang nomor nya 90 an bukan 100 an. Iseng-iseng nyoba, saya antri di TPS 93 yang lengang saat itu dan ternyata benar nama saya terdaftar disana. Selesai dan beres untuk saya pribadi. Dalam hati kecil saya, apa artinya

OK, lanjut lagi di jam 11.40 an WIB, saya dan istri bergegas ke TPS 93 yang sama. Istri terpaksa hanya bisa mencoblos di siang hari (jam 12 siang) karena gak terdaftar di DPT. Semua Fotocopi KTP+KK plus dok aslinya sudah kami siapkan. Gile… mobil parkir banyak sekali di sepanjang jalan sekitar lapangan TPS, gak pernah terjadi sebelumnya! Rame dan cerah sekali siang itu, plus antrian panjang mengulur di 3 TPS di lapangan Pos Cakra itu. Gak masalah buat kami, yang penting bisa menyuarakan suara kami… titik!

Di TPS 93 sendiri, antrian sudah mengulur 3 meter-an. Kami sudah mengantri  sekitar 20 menitan  namun seperti tidak ada pergerakan yang berarti. Sekilas pengamatan, sepertinya meja registrasi yang hanya diisi oleh 1 orang sangat menjadi bottle neck untuk antrian ini. 10 menit kembali kemudian, jam sudah menunjukkan lewat dari jam 12. Bukannya semakin cepat, malah antrian DPTb malah semakin lambat. Ternyata ada info bahwa surat suara habis dan harus menunggu. Selain itu juga ada sejumlah pemilih DPT yang baru datang. Mereka mempertanyakan surat pemberitahuan yang menyatakan bisa memilih sampai pukul 1 siang. Panitia kemudian memutuskan untuk mendahulukan para pemilih DPT tersebut, dengan dibuat 1 antrian baru khusus mereka. Makin sulit aja kan buat para calon pemilih DPTb? Pemilih DPT yang terlambat datang pun terus berdatangan gak henti-hentinya. Antrian & meja registrasi semakin lambat saja.  Protes gak terelakan, teriakan mulai terdengar dari barisan pengantri DPTb.

Antrian panjang, 5 menit sebelum jam 13.00 WIB

Tepat jam 1, istri saya pas berada di antrian dekat meja registrasi dan petugas mengatakan stop dan selesai. Sontak saja semua riuh termasuk istri saya. Mereka semua berteriak semakin menjadi-jadi. Jelas bukan salah mereka. Mengantri lama sambal berdiri hampir 1 jam-an hanya karena lambatnya petugas di meja registrasi dll. Tidak ada awareness dan pemberitahuan kalau proses akan segera berakhir, tidak terlihat kesigapan panitia untuk bergerak cepat saat waktu semakin habis. Kami melihat petugas dengan santai saja bertugas, kurang tegas serta sepertinya kurang persiapan.

Ternyata bukan saya aja yang kebingungan mencari TPS 103 dan nyaris gak nyoblos. Tetangga depan rumah juga nyaris frustasi. Untungnya saya bisa infokan tetangga saya tersebut untuk segera ke TPS 93. Sekali lagi ini apa artinya ya? Murni salah catat? Masak bisa ierjadi untuk banyak tetangga di sekitar rumah saya.

Kesimpulannya,  beberapa hal yang menurut pengamatan kami perlu diperhatikan :

  1. Banyak pemilih DPT yang baru datang ke TPS di jam 12-an. Mereka dapat info bahwa pencoblosan dapat dilakukan dari pk.7.00 s/d 13.00. Padahal idealnya para pemilih DPT memilih hanya sampai jam 12 saja dan memberikan waktu 1 jam untuk para pemilih DPTb. Kurang sosialisasi yang baik atau kesengajaan agar terjadi antrian panjang?
  2. Jam 12-an, antrian masih sangat panjang (100-200 an orang). Antisipasi dari petugas TPS sangat kurang. Kenapa tidak ada kesigapan dan bergerak cepat untuk mengatasi antrian? Malahan terkesan santai, kurang peduli sama antrian dan mengulur-ngulur waktu.
  3. Surat Suara tiba-tiba habis menjelang waktu-waktu akhir. Kenapa tidak diprediksian saat antrian panjang terjadi dan segera berkoordinasi dengan TPS sekitarnya.
  4. Surat / lembar pemilih yang berisi nomor TPS ganda namun fiktif seperti  yang saya alami. TPS di  lembar model C6 berbeda dengan lembar lainnya. Sekali lagi apakah ini ketidak sengajaan yang terjadi banyak orang?
  5. Banyak laporan dari teman-teman sekitar di Jakarta Barat yang mengalami hal yang serupa. Kenapa banyak terjadi di kantong-kantong suara petahana?

 

Please note bahwa tulisan ini saya buat dengan semangat dan naluri untuk berbuat lebih baik supaya menjadi pelajaran berharga untuk kita semua. Tidak ada maksud untuk menjelekkan siapa pun karena kita semua bersaudara. Kalau kita semua berbuat benar dan baik, gak ada yang perlu ditakutkan bukan?

Ayo jadilah pemilih yang jujur, cerdas dan pintar serta berani bersuara! Untuk Jakarta dan Indonesia yang lebih baik!

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *