Publik tanah air kembali dibuat sangat terharu akan penghargaan dan rasa salut yang diberikan kepada Ahok. Secara luar biasa dan penuh antusias karangan bunga berdatangan terus ke Balaikota. Sebuah penghargaan tulus dari mereka yang melihat Ahok sebagai seorang pemimpin sejati.

Sebenarnya sangat aneh, Ahok bukanlah pemenang Pilkada DKI 2017 melainkan Anies Sandi. Tetapi bukan mereka yang mendapatkan karangan bunga. Justru Ahoklah yang mendapatkan penghargaan karangan bunga yang terus mengalir untuk dirinya. Padahal bukankah Ahok Djarot sebagai pihak yang kalah? Disini kita diingatkan lagi defenisi apa itu pemimpin.

Dalam berbagai literarutar, kita mendapatkan banyak defenisi pemimpin. Banyak arti yang dikeluarkan oleh berbagai pakar ataupun praktisi. Namun benang merahnya kita sepakat bahwa pemimpin itu berbicara tentang pengaruh. Pemimpin karena jabatan justru berada dalam posisi paling rendah menurut John C Maxwell. Nah disini kita melihat bahwa Ahok sebagai pemimpin bukan karena jabatan Gubernur yang melekat pada dirinya, melainkan integritas yang teruji pada dirinya membuat Ahok seorang yang berpengaruh.

Ketika Ahok kalah, dengan sangat tenang dan tanpa beban dia mengakui kekalahannya dan memberikan selamat kepada yang menang.  Sikap ini membuat semua pendukungnya menerima kekalahan itu dan mau belajar. Tetapi cerita tidak sampai disitu. Saat Ahok kembali aktif menjadi seorang Gubernur, akhirnya dia pun menuai penghargaan dari masyarakat yang mengenal dia dan mengakui kepemimpinannya.

Jika sebelumnya kita tahu biasanya karangan bunga untuk ucapan selamat ataupun ucapak dukacita, kali ini Ahok mendapatkan ucapan yang berbeda. Berbagai ucapan untuk Ahok mengundang kata-kata yang lucu dan humoris. Kita pun tertawa bermacam-macam menanggapi karangan bunga ini. Di lain sisi, kita juga terharu dengan berbagai ucapan yang ada. Intinya kita melihat ucapan kepada Ahok membuat kita terharu, tertawa dan tersadar.

Sebenarnya untuk apa ini semua? Apakah ini hanya sebatas demam pendukung Ahok yang gagal melupakan kemenangan Ahok yang diharapkan pendukungnya? Jawabannya jauh diatas itu. Pada ucapan ini, kita melihat bahwa pemimpin yang sejati mendapatkan tempat yang hidup di hati masyarakat. Pemimpin yang sejati bukan karena dapat memberikan satu kemenangan, tetapi seorang yang memberikan hasil nyata hingga menyentuh hati yang paling dalam pada hati masyarakat.

Disini kita melihat bahwa perlahan masyarakat Indonesia mulai dewasa dalam berpolitik. Ketika Ahok kalah, kita melihat tidak ada kerusuhan ataupun tuduhan-tuduhan yang membuat gaduh. Bahkan dengan sangat rendah hati, Ahok Djarot menerima kekalahannya. Tidak melakukan tindakan yang mengundang keributan seperti tuduhan dicurangi. Ataupun melakukan gugatan ke MK. Sejauh ini kita tidak melihat ajuan gugatan kecurangan ke MK. Intinya kita melihat pendukung Ahok Djarot dan timnya dapat bersikap dewasa dalam membangun demokrasi yang lebih baik. Beda halnya ketika Prabowo kalah pada Pilpres 2014.

Kembali ke karangan bunga, Ahok memang kalah dalam Pilkada DKI dengan berbagai tekanan dan aniaya yang harus didapatkan sang petahana. Bahkan kasus penistaan agama yang dialamatkan pada dirinya belum selesai apakah Ahok harus dihukum atau dibebaskan atas sangkaan ini. Tetapi ada sukacita yang luar biasa kita temukan pada sosok anak bangsa ini.

Ahok mendapatkan penghargaan rasa salut dari masyarakat DKI yang luar biasa banyaknya. Bahkan sampai hari ini, karangan bunga di depan Balaikota dan halaman Kantor Pemprov DKI sudah penuh dan harus ditampung di luar halaman. Yah, inilah pengakuan lebih dari sekedar kemenangan politik. Sebab Ahok telah memenangkan hati banyak masyarakat DKI Jakarta dan masyarakat Indonesia.

Ahok sudah menjadi simbol harapan perubahan dan model pemimpin yang banyak dirindukan masyarakat Indonesia. Bahkan sekarang banyak desakan masyarakat yang menginginkan Ahok dicalonkan sebagai Gubernur di Bali, Sumatera Utara, Papua, Kalimantan dan lain-lain. Artinya Ahok sudah mulai dijadikan standar pemimpin di tanah air untuk membawa satu perubahan Indonesia yang lebih baik.

Singkatnya, kekalahan Ahok di Pilkada DKI justru jadi kemenangan buat masyarakat Indonesia karena sekarang masyarakat punya harapan dan standar baru untuk kepala  daerah di Indonesia. Di sini kita melihat bahwa sinar Ahok sebagai pemimpin yang benar tidak dapat ditutup-tutupi dengan berbagai cara. Jabatan yang akan hilang tidak akan mengentikannya memberikan cahaya.

Pada akhirnya saya juga ikut terharu dengan apa yang disampaikan Ahok pada sidang pembacaan pledoi Selasa, 25 April 2017. Saya hanya ingin mengutip sebagian isi pledoi yang dibacakan Ahok

“Jadi inilah yang harus kita lakukan. Sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang yang berbeda arah, kita harus tetap teguh. Semua tidak jujur enggak apa-apa, asal kita sendiri jujur.

Mungkin, setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan yang menghitung untuk kita, bukan orang.

Tuhan yang melihat hati mengetahui isi hati saya. Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan. Walaupun saya difitnah dan dicaci maki dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya, saya akan tetap melayani dengan kasih.”

Sumber :  https://seword.com